Senin, 27 Desember 2010

ntah lah, menghilangkan rasa takut ada juga, trus apa lg ya!!!


27 nov 10’.. rasa-rasa ingin ikut atau tidak, karna tidak ada teman yang mo d ajak, tapi kalau begitu, niat hati tetap juga ikut untuk mengikuti pelatihan tersebut. Subhanallah..buanyak sekali ilmu yang saya dapatkan, dari bagaimana melihat barang-barang yang di buat dari barang babi, bentuk makanan yang tidak halal, dan pakai faramali, dan juga kita bisa belajar bagai mana melihat  tangan teman kita apa aja penyakit yang beliau derita.
Nah,,setelah kita telah mengetaui ilmu itu, kita bias menwarkan obat herbal kepada teman kita kenal tadi, dan kalau pun teman kita ingin di bekam,kita bida juga membekam teman kita tadi. Tapii ingat, membekam hanya dengan wanita-wanita, pria-pria, jangan membekam wanita-pria atau sebaliknya, karena itu tidak diperbolehkan, dan juga itu bukan muhrim kita.

28 november 10’ pada hari ini adalah lanjutan dari acara yang keren, nah disini kita mulai untuk bisa praktek bekam, bagaimana cara bekam, dan bagaimana mendeteksi penyakit yang ada dalam tubuh kita.
Hhmmm,, ternyata ketakutan itu dapat dikalahkan dgn melawan ketakutan tersebut, baru saja aku mencoba untuk melawan rasa katekutan itu, hampir gk percaya, kalau saya sudah biasa membekam teman-teman, takut akan melihat jarum, takut untuk membekam teman, eh,ternyata setelah kita mempraktekkannya, ternyat ketakutan yang selama ini terlintas di fikaran kita, hilang begitu aja. Ternyat ketakutan tersebut akan membuat manusia tidak akan pernah maju. Karena ketakutan selalu menghatntui orang-orang yang takut akan segala-segala.
Takut gagal, takut kalau uang habis, takut tidak bisa menjalankannya, atau segala macam.. kalau teman-teman bisa menghilangkan rasa itu, pasti bisa. Tidak ada yang tidak mngkin bisa kita lakukan.

27 des 2010, hampir sebulan tidak nulis kegiatan nih, seharian td k kmpus, eh ternyata malah dosennya gk dtg,, huff,,tp gpp lah. sorenya ana prg ngaji, biasalah kgiatan mingguan, subbhanallah ternyata materi yg d sampaikan uni td sungguh luar biasa bgus. Mdh2an ana bisa mengaplikasikannya d aktifitas sehari hari. Nah stelah itu ada berita gmbira dari slh seorang kelp ana,bahwasanya insyaAllah tgl 8 januari 2011 akan melangsungkan pernikahan, wahhh,,luar biasa surprise, ternyata buah tdk akan jauh jatuhnya dari pohon, sm2 anak kedokteran, luar biasa. Barakallah aja buat kakakQ..

28 des 2010, ntah apa yg terjadi untuk hari ini, rasanya banyak amanah yang belum terselesaikan, padahal ini adalah modal awal untuk membimbing adek2 2010, teringat ketika masih baru2 terpilih d pengurusan harus d bimbing oleh senior-senior, eh sekarang malah gak terasa ternyata adek2 2010 pun juga minta d bimbing untuku ke majuan kepengurusan selanjut nya, mudah2an dengan amanah yang ana terima ini, bisa di jalankan hingga selesai. DPO emang tidak mudah, kita harus membimbing adek2 baru, bagaimana kepngurusan forum bisa berjalan dengan lancar untuk 1 tahun ke depan, tapi apakah ana sanggup d kepengurusan sebagai DPO (dewan pertimbangan organisasi), rasanya tak percaya aja, tp ini adalah amanah, harus d jalankan, harus bisa membuat forum Al-irsyad lebih baik ke depanny.
apakah kita boleh krisis,??kritis,kritis,dan kritis,, apakah boleh!!!! kritis boleh2 aja, tapi jangan teralalu kritis,
bisa,,bisa,,dan bisa, so pasti harus bisa, tak boleh patah semangat tengah jalan, ini belum seberapa di bandingkan perjuangan rasulullah ketika menegakkan islam, skrg untuk berdakwah sudah tidak terlalu sulit lagi, tidak perlu sembunyi-sembunyi, malahan fasilitas untuk berdakwah pun juga sudah banyak.. Oh,, kakakQ, adekmu ini merindukan dirimu, kangen dengan suasana ketika masih di wisma, ingin rasanya waktu ini untuk di ulang beberapa tahun belakang, tapi itu tak kan bisa terjadi. kak silvi,kak titi,kak vera, kak caca, kak pu2t, kak desi, ukhti, dll,, diriku merindukan kalian semua., andai waktu bisa kita putar, akan banyak waktu2 yang  bisa ana manfaatkan ketika itu. kini, hanya tinggal kenangan, sekarang adekmu ini sudah menjadi senior di kampus, yang harus membimbing adek2 baru.. tapi kini saatnya harus bangkit, tidak boleh lemah, disinilah saatnya kita belajar supaya lebih dewasa. keep spirit NAILUL, u is the best, pasti bisa. allahu akbar.!!!

Kamis, 23 Desember 2010

Quran · Abdur Rahman As-Sudais

Quran · Abdur Rahman As-Sudais

Ceramah · Fakhruddin Nu'man · Fiqih Do'a dan Dzikir

Ceramah · Fakhruddin Nu'man · Fiqih Do'a dan Dzikir

Tegar Di Jalan Dakwah

Problematika Internal Aktivis Dakwah
Pembahasan problematika internal lebih didahulukan dari pada pembahasan problematika eksternal karena problem terberat bagi semua jamaah dakwah adalah kendala internal. Ketika problematika internal sudah diselesaikan/dikelola dengan baik, maka amanah dakwah lebih mudah ditunaikan dan problematika eksternal lebih mudah diselesaikan.
Problematika internal yang sering dijumpai dalam jamaah dakwah adalah gejolak kejiwaan, ketidakseimbangan aktivitas, latar belakang dan masa lalu, penyesuaian diri, dan friksi internal.
Gejolak kejiwaan sebenarnya merupakan persoalan yang dimiliki oleh semua manusia biasa. Dan yang perlu disadari adalah para aktivis dakwah juga manusia biasa. Gejolak ini tidak bisa dimatikan sama sekali, tetapi perlu dikelola dengan baik agar tidak merugikan dakwah dan aktivis dakwah.
Di antara gejolak kejiwaan itu adalah: Pertama, gejolak syahwat. Banyak orang yang terpeleset oleh gejolak ketertarikan pada lawan jenis ini. Bagi mereka yang belum menikah, gejolak ini biasanya lebih besar dan lebih berpeluang “menggoda.” Kedua, gejolak amarah. Seperti kisah Khalid saat menghadapi Jahdam dan pemuka bani Jazimah, gejolak amarah ini bisa berakibat fatal termasuk bagi citra dakwah, hubungan antar aktivis dakwah, dan terjadinya fitnah di antara kaum muslimin. Ketiga, gejolak heroisme. Semangat heroisme memang bagus dan sangat perlu, tetapi ketika sudah tidak proporsional ia akan mendatangkan sikap ekstrem yang berbahaya bagi kemaslahatan dakwah dan umat. Kasus pembunuhan terhadap Nuhaik yang dilakukan Usamah bin Zaid adalah contohnya. Keempat, gejolak kecemburuan. Seperti kecemburuan Anshar pada para mualaf yang mendapatkan hampir semua ghanimah perang Hunain, sikap ini bisa berefek pada melemahnya soliditas internal jamaah. Meskipun yang dicemburui oleh Anshar sebenarnya adalah perhatian Rasulullah dan bukan materi ghanimah-nya, gejolak ini segera diselesaikan Rasulullah karena jika dibiarkan bisa berdampak negatif.
Ketidakseimbangan aktivitas juga menimbulkan problematika tersendiri. Ketidakseimbangan antara aktivitas ruhaniyah dengan aktivitas lapangan, ketidakseimbangan antara dakwah di dalam dengan di luar rumah tangga, ketidakseimbangan antara aktivitas pribadi dengan organisasi, ketidakseimbangan antara amal tarbawi dengan amal siyasi, ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas dengan kuantitas SDM; semuanya bisa berakibat negatif. Tawazun atau keseimbangan yang merupakan asas kehidupan, juga harus dipraktekkan dalam kehidupan berjamaah dan oleh semua aktivis dakwah.
Latar belakang dan masa lalu aktivis yang buruk bisa pula menjadi problematika internal dakwah jika tidak dilakukan langkah-langkah solutif. Latar belakang keagamaan keluarga, misalnya. Ia bisa berbentuk lemahnya tsaqafah Islam, tekanan keluarga yang menentang aktivitas dakwah, dan kerancuan dalam orientasi kehidupan. Sedangkan masa lalu yang “jahiliyah” bisa membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi kredibilitas sang aktivis dakwah. Solusi atas problem ini terangkum dalam kata “mujahadah.” Bagaimana seorang aktivis melakukan muhasabah, menyadari kelemahannya dan melakukan perbaikan diri. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi pengaruhnya bisa dikendalikan.
Problematika internal yang keempat adalah penyesuaian diri. Yakni penyesuaian diri terhadap karakteristik pendekatan dan sikap dakwah yang melekat pada masing-masing marhalah dan orbit dakwah. Sebagaimana corak dakwah yang berbeda antara fase Makkiyah dan Madaniyah, bahkan masa sirriyah dan jahriyah pada fase Makkah yang juga berbeda, dakwah saat ini juga mengalami hal yang sama; ada tahap-tahapnya. Antara mihwar tanzhimi yang berkonsentrasi pada konsolidasi internal dan mihwar muassasi yang konsen pada perjuangan politik membuat beberapa kader dakwah tidak mampu menyesuaikan diri. Hambatannya bisa karena sifat “kelambanan” kemanusiaan, kecenderungan jiwa, keterbatasan dan perbedaan tsaqafah, sampai keterbatasan kapasitas. Untuk mengatasi problem ini dibutuhkan peran kelembagaan dakwah. Jamaah dakwah perlu melakukan persiapan perubahan fase dakwah, mensosialisasikan cara pandang yang disepakati tentang batas-batas pengembangan dakwah sehingga jelas mana yang termasuk pengembangan (tathwir) dan mana yang termasuk penyimpangan (inhiraf). Jamaah dakwah juga harus mendefinisikan mana yang asholah dan tsawabit, serta mana yang mutaghayyirat.
Problem internal kelima adalah friksi internal. Friksi ini bisa timbul dari lingkungan yang kecil seperti intern sebuah lembaga dakwah, atau antar lembaga, atau antar personal pendukung dakwah. Banyak gerakan dakwah yang harus tutup usia dan kini tinggal nama karena problematika ini. Friksi dalam sejarah dakwah memberi beberapa pelajaran penting bagi kita: bahwa friksi merupakan indikasi kelemahan proses tarbiyah, friksi menandakan adanya kelemahan dalam penjagaan diri para aktivis dakwah, restrukturiasi dakwah tepat dilakukan terhadap orang-orang yang telah memahami karakter dakwah itu sendiri, friksi juga bukti keberadaan ego manusia, penumbuhan al-wa’yul islami (kesadaran berislam) dan al-wa’yu ad-da’awihamasah (semangat) bergerak, dan sangat mungkin friksi timbul karena hadirnya pihak ketiga yang sengaja “memecah” jamaah. (kesadaran dakwah) lebih utama dibandingkan sekadar meletupkan
Problematika Eksternal Dakwah
Problematika eksternal dakwah yang bisa menjadi bahaya besar bagi kebaikan bangsa dan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam meliputi problematika spiritual dan kultural, problematika moral, dan problematika sistemik.
Di antara problematika dakwah di Indonesia yang menyangkut aspek spiritual dan kultural adalah: berhala-berhala modern baik berupa teknologi yang dijadikan rujukan kebenaran, sains yang diabsolutkan, materi yang ditaati, maupun kekuasaan yang dipuja-puja; syirik, khurafat dan tahayul yang masih merebak di masyarakat; globalisasi dan dialektika kultural; serta tradisi baik yang sudah tergerus dan tergantikan dengan budaya negatif efek perkembangan peradaban.
Problematika moral di antaranya adalah minuman keras dan penyalahgunaan obat-obatan, penyelewengan seksual, perjudian dan penipuan, serta tindakan brutal dan kekerasan.
Sedangkan yang dimaksudkan dengan problematika sistemik adalah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kemiskinan, kebodohan, dan ancaman disintegrasi bangsa.

Daya Tahan di Medan Dakwah
Dakwah yang merupakan jalan panjang dan lintas generasi niscaya memerlukan daya tahan yang permanen. Bagi, individu kader dakwah daya tahan ini jug harus dimiliki agar tetap istiqamah sampai mengakhiri sejarah kehidupannya dengan husnul khatimah. Untuk itu, paling tidak ada lima faktor yang perlu dimiliki para aktivis dakwah untuk merealisir daya tahan di medan dakwah: menguatkan dan membersihkan motivasi, menggapai derajat iman, menggandakan kesabaran, kekuatan ukhuwah, dan dukungan soliditas struktur.
Untuk menguatkan dan membersihkan motivasi kita perlu selalu memahami makna ikhlas dan berupaya mencapainya dengan jalan: senantiasa memperbaharui niat, berusaha keras menunaikan kewajiban, berusaha keras mewujudkan kecintaan kepada Allah, merasakan pengawasan Allah, dan hati-hati dalam beramal.
Untuk mencapai derajat iman kita perlu : memiliki orientasi rabbani, yakni menjadikan seluruh aktivitas selalu berorientasi kepada Allah, dan sebaliknya, berhati-hati terhadap orientasi duniawi. Jika kita mampu mencapai derajat iman ini, maka Allah menjanjikan kemenangan atas musuh, jaminan bahwa orang-orang kafir takkan menguasai, mendapatkan izzah, mendapatkan kehidupan dan rezeki yang baik, menjadi khalifah di muka bumi, serta mendapatkan surga di akhirat nanti.
Untuk bisa menggandakan kesabaran kita perlu memberikan dorongan jiwa untuk mengejar dengan sungguh-sungguh faedah-faedah yang ditimbulkan oleh kesabaran, dan betapa besar buahnya bagi agama dan keduniaan kita serta melawan pengaruh hawa nafsu. Jika kesabaran telah kita miliki maka kita akan mendapatkan hikmahnya yang luar biasa: dijadikan pemimpin, pahala yang besar, kebersamaan Allah, dan mendapatkan berbagai macam kebaikan karena sabar.
Untuk membangun ukhuwah kita perlu memotivasi diri dengan keteladanan ukhuwah di zaman kenabian lalu memperbaiki hubungan sesama aktivis dakwah berlandaskan cinta dan kasih sayang. Kita juga harus meminimalisir penghambat-penghambat ukhuwah. Jika kekuatan ukhuwah ini terbangun kokoh, maka daya tahan kita sebagai aktivis dakwah maupun daya tahan jamaah di medan dakwah akan semakin kokoh.
Sedangkan upaya membangun soliditas struktur paling tidak meliputi konsolidasi manajerial dan konsolidasi operasional. Konsolidasi manajerial dilakukan dengan penataan manajemen yang bagus dan profesional dalam setiap jalur dan lini. Selain mengambil prinsip-prinsip dari Al-Qur’an dan Hadits, prinsip manajemen modern juga bisa diterapkan. Konsolidasi operasional dimaksudkan untuk mensinkronkan berbagai kegiatan dalam skala gerakan, sekaligus senantiasa mengarahkan gerak dakwah kepada tujuan yang ditetapkan. Selain itu, untuk membangun soliditas struktur perlu menghindari hal-hal yang bisa merusaknya yaitu munculnya sekat komunikasi dan lemahnya imunitas struktural (mana’ah tanzhimiyah).

Yang Tegar di Jalan Dakwah
Jalan dakwah ini pasti dipenuhi dengan beragam kesulitan, hambatan, rintangan, tribulasi. Para aktifisnya akan berhadapan dengan beragam mihnah, sebagaimana para dai generasi sebelumnya sejak Rasulullah dan para sahabatnya, tabi’in, tabiit tabi’in, dan seterusnya.
Di antara mihnah itu ada yang berupa ejekan, gelombang fitnah, teror fisik, manisnya rayuan, tekanan keluarga, keterbatasan ekonomi, kemapanan, sampai kekuasaan. Kader dakwah harus tegar dalam menghadapi semua mihnah itu.
Agar tegar dalam menghadapi ejekan, sadarilah bahwa ejekan kepada Rasulullah jauh lebih hebat; maka biarkan saja semua orang mengejek, tidak perlu diladeni. Agar tegar dalam menghadapi fitnah, tetaplah bekerja dan beramal maka umat akan tahu siapa yang benar dan siapa yang tukang fitnah. Agar tegar dalam menghadapi teror fisik, tawakallah kepada Allah dan berdoalah senantiasa, di samping persiapan lain yang juga perlu dilakukan oleh struktur dakwah. Agar tegar dalam menghadapi manisnya rayuan, jagalah keikhlasan dan senantiasa memperbarui niat, waspada dan tetap bersama jamaah. Agar tegar dalam menghadapi tekanan keluarga, ketegasan harus diutamakan . Iman tidak bisa ditukar dengan keluarga, jika memang itu pilihannya. Agar tegar dalam kondisi kekurangan/keterbatasan ekonomi, bersabar adalah kuncinya. Kekuatan ukhuwah sesama aktivis dakwah juga berperan penting untuk menjaga kita tetap tegar. Agar tegar dalam kemapanan harus memiliki paradigma semakin banyak kekayaan, semakin banyak kontribusi bagi dakwah. Maka yang diteladani adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Agar tegar di puncak kekuasaan, kelurusan orientasi perjuangan, ketaatan pada manhaj dakwah Rasulullah dan keyakinan akan janji-janji-Nya. Dan pada semua mihnah, kedekatan dengan Allah dan tawakal kepada-Nya merupakan kunci utama agar tegar di jalan dakwah!

Rabu, 15 Desember 2010

Menjadi Hamba yang Ikhlas

Pernahkah teman-teman merasa kecewa karena teman-teman merasa sudah berusaha berbuat yang terbaik untuk orang banyak, tapi masih dianggap kurang, dan bahkan dianggap salah, apa yang kita lakukan tersebut? Hingga hal tersebut membuat kita kecewa, sedih dan marah?  Kita ini hanya manusia biasa, kita tidak mungkin dapat memuaskan keinginan semua orang, dalam segala sesuatu yang kita  lakukan, pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Pasti ada   pihak-pihak yang merasa puas dan ada juga pihak-pihak yang merasa kurang puas dengan apa yang kita lakukan, hal ini lumrah dan biasa terjadi, tinggal tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Coba kita tinjau sedikit kebelakang, apa niat dan tujuan kita dalam melakukan suatu perbuatan, apakah karena dan untuk Allah atau kalaupun alasan kita karena dan untuk Allah tetapi tidak murni, masih ada alasan lainnya?
Perlu diketahui, kalau tujuan dan niat kita dalam melakukan sesuatu, tidak murni ikhlas karena Allah, maka yang terjadi adalah kita akan sering menemukan kekecewaan, ini karena kita masih mempunyai tujuan lain selain Allah. Hingga disaat ada pihak-pihak yang merasa tidak puas dengan apa yang kita lakukan, hal itu membuat kita sedih dan kecewa. Dan kemudian yang terjadi adalah, tidak jarang dari kita, yang kemudian menyalahkan sebab-sebab, padahal sebenarnya Allah Swt lah yang Maha Mengatur Segala Sesuatu, Allah jugalah pencipta semua sebab-sebab.
Mungkin kekecewaan yang kita alami dari mahluk atau pihak-pihak yang merasa tidak puas dengan apa yang kita lakukan, adalah merupakan teguran kecil dari Allah, agar kita kembali meluruskan niat dan tujuan kita, agar kita memperbaiki niat dan tujuan kita supaya hanya karena-Nya. Karena Allah Swt hanya menerima amal ibadah atau amal kebaikan yang ikhlas ditujukan semata-mata karena-Nya. Perhatikan firman-Nya berikut ini :  dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yunus {10} : 105).  Dan perhatikan juga sabda Rasulullah Saw berikut ini. ”Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i). Imam Ali ra juga berkata, ”Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.”

Ikhlas akan membuat jiwa kita menjadi merdeka dan tidak dibelenggu pengharapan akan pujian, tidak haus akan imbalan. Hati menjadi tenang karena ia tidak diperbudak penantian mendapat penghargaan ataupun imbalan dari makhluk. Penantian adalah hal yang tidak nyaman, menunggu pujian atau imbalan adalah hal yang dapat meresahkan, bahkan bisa mengiris hati bila ternyata yang datang sebaliknya.. Orang yang tidak ikhlas akan banyak menemui kekecewaan dalam hidupnya, karena orang yang tidak ikhlas banyak berharap pada mahluk yang lemah. Kalau kita masih sering berharap pada mahluk, (walau sekecil apapun), maka kita akan sering menemukan kekecewaan.  Ketahuilah, bahwa penilaian dan penerimaan mahluk (manusia) atas apa yang kita lakukan, tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan penilaian dan penerimaan Allah terhadap segala sesuatu yang kita lakukan. Perhatikan firman-Nya berikut ini : “Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS. An Nisa {4} : 146).

Perhatikan juga firman-Nya berikut ini, ”Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya)”. (QS. Al Maaidah [5] : 85)

Sekarang coba tanyakan dengan jujur pada diri kita sendiri, apakah dalam beramal shaleh, atau dalam melakukan segala sesuatu, kita masih menyertai kepentingan kita sendiri? (hanya kita yang bisa menjawabnya dengan jujur). Ketahuilah, orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi atas apa yang ia lakukan. Tujuan orang yang ikhlas hanya satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT.
Orang yang benar-benar ikhlas, sekalipun dirinya dibilang tidak ikhlas, ia tidak akan membela diri, sebab kalau dia membela diri apalagi sampai marah karena dikatakan tidak ikhlas, itu merupakan tanda-tanda ketidakikhlasannya.  Karena orang yang ikhlas, tidak peduli pada penilaian mahluk, ia hanya perduli pada penilaian Allah SWT dan keikhlasannya hanya ditujukan untuk Allah, sehingga tidak perlu orang lain mengetahuinya. Bila ia ingin keikhlasananya diketahui orang lain, itu tandanya  ia belum ikhlas. 

Marilah kita perbaiki segala amal ibadah kita atau apapun yang kita lakukan dengan ikhlas, sekalipun memang benar, setiap manusia pasti punya kepentingan dan kebutuhan masing-masing,  tapi percayalah, Allah Maha Tahu semua kebutuhan dan kesulitan kita, Allah Maha Tahu Segalanya dan Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu,  apabila kita melakukan semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah lah yang akan menolong segalanya, percayalah ! 

Kamis, 09 Desember 2010

Segera mulai Bahagiamu dengan "Positive Feeling"

Perasaan kita akan mempengaruhi pola fikir kita, pola berfikir akan mempengaruhi pola bicara, pola bicara akan mempengaruhi prilaku, tingkah laku yg berulang itu akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan akan menjadi karakter atau pribadi. Mengubah pribadi ini sulit, tapi kita bisa memulainya dengan mengarahkan perasaan baik agar fikiran kita baik...


Dalam hidup kita memang ada saat saat kita terlibat dikehidupan pribadi seorang mukmin lainnya, tak sengaja terperosok dan berlama lama mendalami diam diam dan kemudian berdiam disana hingga tak sadar hati menilai dan bibir mengusik kehidupannya.

Hidup dan kehidupan memang mengajarkan kita untuk bertemu dengan orang orang berbeda dalam hidup kita, disana kita belajar memahami cerita masing masing menuliskannya dalam papan pengalaman yang membantu kita menjadi lebih bijak.

Kita diberi kecendrungan untuk senang dan menyenangi keindahan, yang menarik hati kita untuk singgah.
Dan dari persinggahan itu melahirkan sebuah ikatan ikatan yg bergabung menjadi persaudaraan yang kemudian menguatkan hati kita.

Kita senang berteduh dalam ketenangan.

Meski ketenangan itu kemudian pergi diganti keresahan yg mengikat jiwa dan lebih lama mendiaminya
Sementara, keresahan itu akan tumbuh subur dengan prasangka prasangka.
Dan prasangka itu terletak di fikiran yang bersumber dari perasaan...

Perasaan itu ada dalam ruang hati, yang bersemayam dibelantara dada dada manusia.
Disanalah iman..
Disanalah ketenangan

"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,"
(QS Al Fath 4)

Entah itu fitrah manusia atau sebuah kesalahan, keresahan itu bisa saja ada bahkan lebih sering menghampiri dan tidak terencana.

Jika kita perhatikan, keresahan itu tidak lebih hanyalah hukuman kecil dari prilaku lidah dan tubuh kita yang tak sengaja telah melukai saudara kita.

Bersegeralah untuk kembali,..

"Bukan akhlak seorang mukmin berbicara dengan lidah yang tidak sesuai kandungan hatinya. Ketenangan (sabar dan berhati-hati) adalah dari Allah dan tergesa-gesa (terburu-buru) adalah dari setan".  (HR. Asysyihaab)

Bersegeralah untuk menghilangkan prasangka prasangka,

"Seorang yang baik keislamannya ialah yang meninggalkan apa-apa yang tidak berkepentingan dengannya". (HR. Tirmidzi)

Hati-hatilah terhadap prasangka. Sesungguhnya prasangka adalah omongan paling dusta. (HR. Bukhari)

"Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, sebab prasangka buruk adalah ucapan yang paling bohong." (Muttafaqun Alaihi, Riwayat Abu Hurairah Ra)

Bersegeralah...


Segera ciptakan kecendrungan perasaan baik dihatimu, karena dari sana fikiran kita akan baik dan berprasangka hanya yang baik baik.

"Positive Feeling to Create Positive Thinking" 

Ber-positive feeling, berati berperasaan positif.
Semua prilaku kita dikendalikan perasaan dan pikiran, jika hati kita baik maka keseluruhan prilaku kita akan baik.
Dengan berperasaan baik, maka akan menciptakan fikiran baik atau prasangka baik.

Tidak akan pernah ada penyesalan atau keresahan, jika prasangka kita baik. Baik itu kepada manusia, atau kepada Allah yg mengetahui setiap daun daun yang menguning dan jatuh...

Ingat!
Bahwasannya apa apa yang ada dalam perasaan hati kita, nanti akan mempengaruhi pola pikir kita. Apa yang ada dalam pola pikir kita, nanti akan mempengaruhi pola ucap kita. Apa yang ada dalam pola ucap kita, nanti akan mempengaruhi pola prilaku kita. Apa yang ada dalam pola prilaku kita, nanti akan mempengaruhi kebiasaan kita. 

Dan kebiasaan yang terus berulang akan menjadi karakter, dan karakter akan menjadi sebuah PRIBADI yang sangat sulit! untuk kita rubah...

Indah... jika kita selalu memiliki pola fikir positif, dan kebiasan itu bisa dimulai dengan mengarahkan hati atau perasaan kita untuk menanggapi segala sesuatu dengan positif.

Insha Allah bahagia.

^_^

"Barangsiapa rendah hati kepada saudaranya semuslim maka Allah akan mengangkat derajatnya, dan barangsiapa mengangkat diri terhadapnya maka Allah akan merendahkannya". 
 (HR. Ath-Thabrani)


Dengan segala kerendahan hati,

Nailul Hidayati ^_^

cinta seorang Kekasih

Hatinya suci mulia
pribadinya agung tak ternoda
penghuni langit dan penghuni cinta
kepadanya...

cinta kepada umatnya jangan ditanya
sedalam perasaan, setinggi lamunan
secerah bintang yang bertebaran di alam raya
tiada berbalas, apalagi terbalas
itulah cintanya

musuh tak kuasa membencinya
jasad mereka menentang, namun hati mereka mengakui
karena akhlaknya yang begitu indah seindah keindahan yang terindah