Sabtu, 04 Desember 2010

mencari cinta sejati!! siapakah yang benar-benar mencintai kita...??



Bertepuk sebelah tangan saja tidak akan berbunyi.
Bercinta dengan yang tidak mencintai, akan menyebabkan seseorang itu kecewa dan merana.

Itulah lumrahnya apabila bercinta dengan manusia.
Tapi sebaliknya bercinta dengan Allah, Tuhan yang Maha Pencinta atau “Al Waduud” itu, cinta kita pasti akan berbalas. Bahkan ia diberi penghargaan dan disambut dengan baik.

Cinta Allah yang Maha Pencinta tidak memilih-milih siapa, rupa, gaya dan bagaimana keadaannya.
CintaNya boleh direbut oleh siapa saja, asalkan ia rajin berusaha untukNya.
Cinta yang tidak pernah luput walau sesaat malahan terus berkekalan.
Berbeda dengan manusia yang hanya cinta pada yang disukai dan diminati saja.
Cintanya pula bermusim dan tidak kekal.
Sewaktu-waktu disenangi dicintai, bila sudah jemu atau benci tidak lagi dicintai malah ditinggalkannya.

Isteri cintakan suami karena suami tempatnya bergantung.
Ibu mencintai anak karena anak itulah penghiburnya di kala sunyi.
Kawan menyayangi kawan karena dapat berbagi dapat merasakan senang dan susahnya hidup. Rakyat menyayangi pemimpinnya karena pemimpinnya menjadi penaung dan pelindung baginya.

Namun Allah yang Maha Pencipta mencintai hamba-hambanya tanpa ada kepentingan apa-apa. Allah hanya melebihkan kecintaanNya kepada orang-orang yang mencintaiNya,
sebagai ganjaran buat hambaNya itu.. Allah akan murka kepada orang yang mengingkariNya, yang sombong, dan memang tidak mau mencintaiNya.

Cinta Seindah Yang Diucap. Semua orang boleh mengaku dan berikrar bahwa
dia mencintai Allah. Tapi tindak-tanduknya dapat mencerminkan apakah dia benar-benar mencintaiNya. Dan Allah sendiri lebih tahu siapakah diantara hamba-hambaNya yang benar-benar mencintaiNya.


Orang yang benar-benar mencintai Allah sanggup berbuat apa saja karenaNya. Kalau terhadap orang yang dikasihi, suami dan lain-lain diberikan perhatian dan tumpuan, Sanggup berkorban apa saja, pastilah terhadap Allah lebih-lebih lagi…..Malah sanggup pula bersusah payah bangun malam untuk bertemu dan bercengkrama dengan kecintaannya.

Sedang orang lain yang sibuk bergaul bebas dengan kekasih hati, dia bermujahadah (melawan kehendak nafsu) menolak ajakan kekasihnya karena mengutamakan larangan Allah SWT yang kasihNya lebih utama.

Tanda Cinta….
Tanda seseorang itu mencintai Allah ialah dia beriman kepada Allah, bertaqwa, berkorban untukNya dengan melakukan kebajikan, sabar, bertaubat,membantu menegakkan agama melakukan ibadah yang fardhu dan rajin mengerjakan ibadah-ibadah sunah. Dia berkasih sayang dengan sesama manusia dan saling bersilaturrahim karena Allah, dengan menjaga batas-batasnya,

saling beri-memberi karena Allah demi  keridloanNya semata. Tidak karena yang lain.Allah melimpahkan kecintaanNya dan menempatkan orang-orang yang dicintaiNya itu pada kedudukan yang tinggi dan mulia di Akhirat.

Allah menjelaskan bagaimana cintaNya di dalam Al-Quran kepada orang yang sungguh-sungguh beribadah berbuat kebaikan dan yang berakhlak mulia.
Diantaranya Allah berfirman:

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar."
( Q.S: Ali Imran,Ayat:146.)

"Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan."
( Q.S: Ali-Imran,Ayat: 134 )

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri."
( Q.S: Al-Baqarah. Ayat: 222 )

Untungnya Orang Bercinta.
Beruntunglah orang yang bercinta dengan Allah, karena mendapat perhatian,cinta dan kasih sayangNya. Istimewanya orang yang bercinta dengan Allah dan mendapat balasan cintaNya, seluruh isi langit dan bumi akan turut mencintainya. Dia menjadi kekasih Allah manakala orang yang
mencintainya turut mendapatkan kecintaan daripada Allah pula.
Orang yang mendapat kecintaan Allah akan hidup bahagia dan tenang ketika di dunia. Di Akhirat Allah akan berikan kebahagian yang kekal abadi.

Begitulah istimewanya orang yang bercinta dengan Tuhan yang Maha Pencinta.
Kita pasti tidak mau gagal dalam bercinta. Agar cinta kita berbalas, bercintalah denganNya,Tuhan yang Maha Pencinta…… dengan curahan cinta Nya yang Agung. Pasti akan mendapat balasan cinta yang istimewa
dariNya. Jangankan di Akhirat, selagi di dunia pun, akan terasa di hati balasan cintaNya.

Rasulullah pernah bersabda :-
Cintailah sesuatu itu sekadarnya saja. Karena Berkemungkinan ia akan menjadi kebencianmu pada suatu ketika. Dan Bencilah yang engkau benci itu sekadar saja..karena berkemungkinan ia akan menjadi kecintaanmu
pada suatu ketika.


Wallohu A’lam Bishowab




Jumat, 03 Desember 2010

yang harus difikirkan aktifis....

Hidup ini memang penuh masalah. Maka bila ada seseorang yang mengatakan bahwa hidupnya tidak ada masalah, maka sesungguhnya itulah masalahnya. Yaitu : tidak punya masalah.
 
Apakah lagi bagi yang bergelar Aktivis Dakwah Kampus, masalah adalah makanan sehari-hari mereka. Empat sehat lima sempurna. Gado-gado masalah selalu berseliweran di kepala. Bahkan ketika di dalam kelas saat kuliah, bisa jadi yang ada di fikirannya adalah “Jam segini rapat ini… jam sekian rapat itu…” Atau “Wah, proposal kegiatan belum jadi nih…” dsb. Hm.. repot juga ya.. Padahal kepala kan hanya satu . Oleh karena itulah, ADK perlu juga dibekali “Manajemen Konsentrasi”. Dan sebenarnya, shalat juga sudah mewakili dari training konsentrasi. Lima kali dalam sehari! Apatah lagi bila ditambah dengan shalat sunnah.

Kuliah dan dakwah “hanyalah” 2 bentuk masalah. Belum lagi bila ada ikhwah yang juga menjadi tulang punggung keluarga atau bahkan sudah menikah. Kuliah dan dakwah, sepintas, seperti berjumlah 2. Tetapi kita sering lupa, bahwa “anak cucunya” banyak. ‘Anaknya’ Kuliah : 144 SKS, ditambah menjadi asdos, tugas kuliah, belajar kelompok, Quiz, UTS, UAS, dll. ‘Anaknya’ Dakwah : dakwah di masjid, dakwah di fakultas, dakwah di universitas, dakwah di sekolah, dakwah di masyarakat, dakwah di dunia maya, dakwah di keluarga, dst. Hal tersebut belum termasuk penjabaran “cucunya”.
Menjadi mahasiswa dan Aktivis, hanya 2 peran manusia. Belum termasuk peran sebagai anak, sebagai kakak/adik, sebagai bagian dari masyarakat, sebagai murabbi, sebagai mad’u, sebagai karyawan (bagi yg sudah bekerja), sebagai qiyadah A-B-C-D, sebagai jundi A-B-C-D, dst.
 
Hidup memang penuh masalah… Dan dengan melihat aneka peran dan aneka aktivitas, maka masalah-masalah akan selalu ada, bahkan banyak. Sehingga seseorang harus pandai me-manage kepalanya untuk menghadapi atau mengatasi masalah yang dihadapi. Tapi tentu dengan sebuah catatan, bahwa “tidak semua masalah itu harus difikirkan”. ‘Kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang kita miliki.” Contohnya, ADK jangan sampai terbawa arus orang-orang yang lalai, orang-orang yang karena sedikitnya aktivitas orang-orang ini, membuatnya mempunyai waktu untuk bersuudzon, ghibah, sakit hati, sensitif, mengeluh dan sejenisnya.
Bayangkan, ADK yang demikian banyak peran dan aktivitasnya, harus disibukkan pula dengan urusan orang-orang yang bisa diistilahkan sebagai BSH atau Barisan Sakit Hati.

Sehingga waktu menjadi habis untuk mengurus masalah internal. Sedang di luar sana, kaum hedonis, feminis, kapitalis, missionaris, komunis, dan is-is yang lain sudah siap menerkam dari segala arah.

Jika saja Islam diamalkan dengan sebenar-benarnya, maka akan mengikis sekian persen masalah, yang tidak harus difikirkan itu. Penghematan. Hemat energi, yaitu dengan husnudzon, tidak iri dan dengki, tidak ghibah, tabayyun, tsiqoh dan musyawarah.

Tapi, sudah sejauh manakah pengamalan Islam kita ? Jika masih minim, maka akan ada pemborosan energi dari kepala dan juga hati. Subsidi ke kantong-kantong masalah yang seharusnya tidak perlu terjadi, yang tidak perlu difikirkan. Ingat, Hemat Energi! heheheee....
Bukan tanpa sebab air laut rasanya asin. Sebab, bias dibayangkan bila air laut rasanya tawar, semua kotoran dari daratan terutama bangkai dan sampah masuk kelaut. Lupakanlah sampah daratan, isi lautan saja sudah lebih dari cukup untuk meracuni udara bila air laut tawar. Luas lautan hamper dua per tiga luas bumi, ekosistem yang yang ada jumlahnya jutaaan atau bahjan lebih.

Pernahkah kita membaayangkan, seperempat saja penghuni lautan dari jenis ikan mati membusuk maka sisanya akan mati, bila air itu tawar. Bila semua ikan dilautan mati membusuk dan meracuni udara, sangat pasti semua makhluk didaratan bumi termasuk manusia akan turut musnah.
Apakah itu mungkin..? mengapa tidak, hitungan matematisnya adalah seekor bangkai tikus got (biar agak besar) akan menimbulkan bau yang tercium dari radius beberapa meter, bila kita berada didepan bangkai itu perut kita mual bahkan mungkin kepala ikut pusing karena bau yang menyengat. Nah loh….bangkai kambing dan sapi tentu radius bau lebih luas dan efeknyapun pasti lebih kenceng. Lalu bagaimana jika bangkai yang membusuk itu adalah ikan paus yang besarnya wuaaalah geudeee buangeet…, truss bukan seekor lagi tapi seperempat jumlah mereka yang ada di lautan ditambah ikan-ikan lain.. udara pasti terkontaminasi racun, tanpa ada penawar, tanpa ada penetralisir, kehidupan diatas bumi pasti musnah.

Akan tetapi, Allah dengan ilmunya telah menetapkan segala sesuatu tanpa sia-sia apalagi asal bikin (Rabbana ma kholaqta hadza bathila) tetapi dengan perencanaan (takhthith) yang matang (in kulla syain illa biqadar). Air laut rasanya asin, inilah penawar yang telah Allah ciptakan, inilah penetralisir bau bangkai menyengat. Ombak yang tecipta dari suhu udara dan angin mengaduk-aduk isi perut laut sehingga keseimbangan itupun tercipta menghindarkan kemusnahan yang mengerikan.
Terkadang bahkan mungkin lebih sering kita mengutuk dang meratap, mana keadilan Allah, mana risky Allah untuk kita pada saat kita merasa kesulitan. Padahal bila kita merenung sejenak kemudian memikirkan jsekian banyak nikmat Allah ynag terasa namun tidak pernah dirasa dan disadarai, sungguh kenikmatan itu sangat banyak dan tidak akan menyisakan waktu jeda untuk berkata mana nikmat Allah?… mata memandang dalah nikmat, telingan mendengar adalah nikmat, hidung mencium bau adalah nikmat, berjalan adalah nikmat, semua adalah nikmat yang jarang bahkan mungkin (naudzubillah) tidak pernah kita sadari dan kita syukuri. Rabbanghfirlana dzunubana.
Selalu ada hikmah dalam setiap ciptaan Allah di alam yang luas ini, dan hikmah itu akan didapat oleh mereka yang mau membaca fenomena dan mensyukuri nikmat Allah sekecil apapun bentuknya, wan ma yu`tal hikmata faqad utiya khoiron katsiro.
Itu baru sisi negative apabila air laut rasanya tawar, lalu bagaimana bila kita kaji nilai positif dari lautan dan apa yang ada didalamnya, sungguh ayat-ayat Allah sangat banyak yang menyitir lautan dan yang berkenaan dengannya. Dalam konteks kebaikan ada bahtera berlayar dilautan dengan teknologi angin dan hukum Archimedes, menyelam mengambil mutiara. Dalam konteks adzab, ada fira’un dan anak nabi Nuh yang ditenggelamkan. Dalam konteks pengetahuan, ada perumpamaan di dalam Al-qur`an”jika air lautan dijadikan tinta maka ilmu Allah tidak akan habis. Akan tetapi, ada pertanyaan menggelitik jika kita mengkaji laut dengan konteks Negara kita Indonesia, kenapa limpahan anugerah lautan yang begitu luas ini tidak mampu mensejahterakan bangsa yang besar ini? Ada apa dengan Negara kita, apakah kita termasuk mereka yang tidak mensyukuri nikmat lautan yang sarat dengan kebaikan?… wallahu a’lam, yang jelas pengelolaan bangsa ini mesti titingkatkan, dan yang paling pentingadalah siapa Pengelola itu?…jangan sampai menyimpan orang yang tidak cakap ditempat cakap,

Fabiayyialaairabbikuma tukadziban, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan. Fenomena ini dengan cerdas dicatat dalam kitab al-Bidayah wan-Nihayah.



Puisi,, mewakili kata hati

Pandang memagut sejuta bayang haru
Hatiku menjerit mendengar tangisanmu
Selaksa kabut bergayut dikelopak matamu
Sejuta rasa berbaur tanpa irama tanpa nada, sendu
Tabah, sabar, sedih, haru, berbaur menyatu
Nak, ia telah pergi ke pangkuan Ilahi…
Tak kembali walau tuk sekali
Ia telah tiada tapi usah kau lara
Sedu sedanmu hanya kan sia-sia
Tak cukup kata tuk buatnya kembali ada
Kokoh tubuhnya berganti, ringkih dimakan usia
Hitam rambutnya berbaur uban menyela
Sinar matanya tetap tajam walau kian redup
Semua demi kita,… ya, demi kita, agar tetap bertahan hidup
Dua puluh empat tahun berselang
Dua puluh empat tahun yang tak mungkin diulang
Dua puluh empat tahun ia terbaring menyisakan belulang
Dua puluh empat tahun ia pergi tanpa pernah melihatmu pulang
Ia tiada namun semangatnya tetap menyala didada
Ia pergi namun mimpi-mimpinya selalu menyertai
***
Kemarin, kupulang bersiul riang
Ingin kukabarkan padamu aku tlah temukan belahan jiwaku
Namun, kau tak kujumpa…hanya bunda yang kusua
Calon mantumu, bakal ibu dari cucu yang kau rindu tak sempat kau beri restu
Tapi, aku tahu, kau pasti setuju pilihanku
Sejenak ku pergi
Mungkin hampir sepuluh menit tinggalkan monitor ini
Ku menjerit… ya, menjerit walau dihati
Air mata tak mampu kubendung, berderai tiada henti
Sesak nafasku menahan rasa
Kelu lidahku menelan luka
Berat dadaku terhimpit duka
Isak tangisku tertahan
Tak lagi mampu kutahan
Yah…
Anakmu datang ke peraduanmu
Mengumandangkan doa pada-Nya dipusaramu
Semoga Ia terima amal dan ibadahmu
Tak sempat kukecup kerutan didahimu
Tak pernah ku usap keriput ditanganmu
Tak sekalipun kusandarkan kepalaku didadamu
Kurindu bibirmu menyentuh ubun-ubun kepalaku
Ya Allah kuatkan hatiku, ampuni dosa ayah ibuku
Amin.

Rabu, 01 Desember 2010

kupu-kupu cantik

Sssst…
Mari kubisikkan…
Kepompong itu kuat, tangguh, dan mandiri
Mari kubisikkan lagi…
Kelak ia akan menjadi kupu-kupu cantik di taman bungamu
Kau tak tahu…
Kini aku sedang berkepompong
Kau tak mengerti…
Kelak aku kan menjadi kupu-kupu cantik
Lihat nanti…
Kepompong yang tak mau kau tatap saat ini
Bukan karena ia tak berarti
Cuma karena masa belum menepi
Biarlah waktu yang kan memberi bukti
Sssst…
Mari kubisikkan…
Suatu saat,
Aku kan menjadi kupu-kupu cantik
Yang dengan satu kepakan sayapku mampu menyilaukan pandangan matamu
Mengangakan mulut besarmu
Menopang dagu keherananmu
Menghabiskan semua energimu



www.dakwatuna.com

lisan tak bertuan

ini sebuah nasyid yang ana ambil dari sebuah album nasyid maidani ,,, selamat menyanyikan,, ^_^

Kata yang telah terucap
Tak akan dapat kembali
Bila telah sakit di hati
Tiada mudah tuk terobati
Kepada Allah keampunan akan selalu diraih
Pada manusia kemaafan terasa sulit diberi

Ingin jujur berkata dalam tiap bicara
Namun yang ada terkadang hanya dusta
Ingin lisan selalu berhiaskan hikmah
Namun yang ada terkadang hanya ghibah

Sungguh tiada mudah untuk merangkai kata
Yang dapat mendamaikan setiap rasa

Mari kita tersenyum di dalam diam
Bila tertawa dapat menghinakan (melenakan)
Mari kita tertawa di dalam senyuman
Bila dapat memberikan ketenangan (kedamaian)

antara mata dan hati

Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.
Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata sebagai penuntunnya. Untuk melihat, mengamati, dan kemudian otak ikut bekerja untuk mengambil keputusan.
Bila seseorang memiliki niat untuk melakukan amal yang baik, maka mata menuntunnya kearah yang baik pula. Dan bila seseorang berniat melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, maka mata akan menuntunnya kearah yang tidak baik pula.

Sebaliknya bisa pula terjadi, ketika mata melihat sesuatu yang menarik, lalu melahirkan niatan untuk memperoleh kenikmatan dari hal yang dilihatnya, maka hati akan mendorong mata untuk menjelajah lebih jauh lagi, agar dia memperoleh kepuasan dalam memandangnya. Sehingga Allah SWT memberikan kepada kita semua rambu-rambu yang sangat antisipatif, yaitu perintah untuk menundukkan pandangan: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya." (QS. An Nuur: 30-31)
Demikianlah hal yang terjadi, sehingga ketika manusia terpuruk dalam kesesatan, maka terjadilah dialog antara mata dan hati, seperti yang dituturkan oleh seorang ulama besar Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam bukunya "Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu".

Hati berkata kepada Mata
Kaulah yang telah menyeretku kepada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman itu, kau mencari kesembuhan dari kebun yang tidak sehat, kau salahi firman Allah, "Hendaklah mereka menahan pandangannya", kau salahi sabda Rasulullah Saw, "Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, yang akan didapati kelezatannya di dalam hatinya". (H.R. Ahmad)

Sanggahan Mata terhadap Hati
Kau zhalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan penuntun yang menunjukkan jalan kepadamu. Engkau adalah raja yang ditaati. Sedangkan kami hanyalah rakyat dan pengikut. Untuk memenuhi kebutuhanmu, kau naikkan aku ke atas kuda yang binal, disertai ancaman dan peringatan. Jika kau suruh aku untuk menutup pintuku dan menjulurkan hijabku, dengan senang hati akan kuturuti perintah itu. Jika engkau memaksakan diri untuk menggembala di kebun yang dipagari dan engkau mengirimku untuk berburu di tempat yang dipasangi jebakan, tentu engkau akan menjadi tawanan yang sebelumnya engkau adalah seorang pemimpin, engkau menjadi buidak yang sebelumnya engkau adalah tuan. Yang demikian itu karena pemimpin manusia dan hakim yang paling adil, Rasulullah Saw, telah membuat keputusan bagiku atas dirimu, dengan bersabda: "Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati." (H.R. Bukhori Muslim dan lainnya).
Abu Hurairah Ra. Berkata, "Hati adalah raja dan seluruh anggota tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik, maka baik pula pasukannya. Jika raja buruk, buruk pula pasukannya". Jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya para pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah karena kebaikanmu. Jika engkau rusak, rusak pula para pengikutmu. Lalu engkau lemparkan kesalahanmu kepada mata yang tak berdaya. Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta kepada Allah, tidak menyukai dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, ‘asma dan sifat-sifat-Nya. Engkau beralih kepada yang lain dan berpaling dari-Nya. Engkau berganti mencintai selain-Nya.
Demikianlah, mata dan hati, sepasang sekutu yang sangat serasi. Bila mata digunakan dengan baik, dan hati dikendalikan dengan keimanan kepada Allah SWT, maka kerusakan dan kemungkaran dimuka bumi ini tak akan terjadi. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerusakan dan bala bencanalah yang senantiasa menyapa kita.
Robb, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan hati kami dengan keimanan kepada-Mu, mengutamakan cinta kepada-Mu, dan tidak pernah berpaling dari-Mu.
Allaahumma ‘aafinii fii badanii, Allaahumma ‘aafiniifii sam’ii, Allaahumma ‘aafinii fii bashorii. Aamiin.
Ya Allah, sehatkanlah badanku, sehatkanlah pendengaranku, sehatkanlah penglihatanku